Social Icons

Pages

Wednesday, June 19, 2013

Rukun Puasa dan Hal Yang membatalkan Puasa



Pembaca yang dimulyakan Allah ,pada postingan kali ini kita akan melanjutkan tentang fikih puasa ,sebelumnya kita telah menyampaikan tentang syarat wajib puasa dan syarat syahnya puasa,dan pada kesempatan kali ini kita akan belajar bersama tentang masalah rukun puasa dan hal hal yang membatalkan puasa.

Puasa adalah bentuk ibadah dengan demikian pastilah ada rukun yang harus dikerjakan sebagaimana ibadah ibadah lainnya seperti sholat ,haji,dan lainnya.rukun puasa terdiri dari 2 hal yaitu:

1.Niat , Niat secara bahasa diartikan: maksud, bermaksud (al-qashd), sedangkan secara terminologi agama diartikan dengan: "Bermaksud mengerjakan sesuatu yang dibarengi pelaksanaannya. Apabila pelaksanaanya tertunda, tidak berbarengan dengan maksudnya, maka disebut 'azm, azam, keinginan.setiap amalan harus di awali dengan niat seperti juga puasa.dalam puasa ramadhan niat menjadi sempurna jika memenuhi tiga syarat dibawah ini.
 A.- At Tabyiit, yaitu berniat di malam hari sebelum Shubuh.
Jika niat puasa wajib baru dimulai setelah terbit fajar Shubuh, maka puasanya tidaklah sah. Dalilnya adalah hadits dari Hafshoh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

Siapa yang belum berniat di malam hari sebelum Shubuh, maka tidak ada puasa untuknya.” (HR. An Nasai no. 2333, Ibnu Majah no. 1700 dan Abu Daud no. 2454. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).
Sedangkan untuk puasa sunnah, boleh berniat di pagi hari asalkan sebelum waktu zawal (tergelincirnya matahari ke barat). Dalilnya sebagai berikut,

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا دَخَلَ عَلَىَّ قَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ طَعَامٌ ». فَإِذَا قُلْنَا لاَ قَالَ « إِنِّى صَائِمٌ »

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menemuiku lalu ia berkata, “Apakah kalian memiliki makanan?” Jika kami jawab tidak, maka beliau berkata, “Kalau begitu aku puasa.” (HR. Muslim no. 1154 dan Abu Daud no. 2455).
Penulis Kifayatul Akhyar berkata, “Wajib berniat di malam hari. Kalau sudah berniat di malam hari (sebelum Shubuh), masih diperbolehkan makan, tidur dan jima’ (hubungan intim). Jika seseorang berniat puasa Ramadhan sesudah terbit fajar Shubuh, maka tidaklah sah.” (Kifayatul Akhyar, hal. 248).

\B. At Ta’yiin, yaitu menegaskan niat.

Yang dimaksudkan di sini adalah niat puasa yang akan dilaksanakan harus ditegaskan apakah puasa wajib ataukah sunnah. Jika puasa Ramadhan yang diniatkan, maka niatannya tidak cukup dengan sekedar niatan puasa mutlak. Dalilnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى

Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)
Adapun puasa sunnah tidak disyaratkan ta’yin dan tabyit sebagaimana dijelaskan pada point 1 dan 2. Dalilnya adalah sebagaimana hadits ‘Aisyah yang tadi telah terlewat.

C. At Tikroor, yaitu niat harus berulang setiap malamnya

Niat mesti ada di setiap malamnya sebelum Shubuh untuk puasa hari berikutnya. Jadi tidak cukup satu niat untuk seluruh hari dalam satu bulan. Karena setiap hari dalam bulan Ramadhan adalah hari yang berdiri sendiri. Ibadah puasayang dilakukan adalah ibadah yang berulang. Sehingga perlu ada niat yang berbeda setiap harinya.

2.rukun puasa yang kedua adalah meninggalkan segala sesuatu yang membatalkan puasa disiang hari dari terbit fajar sampai tenggelam matahari pada bulan ramadhan.

Puasa  adalah menahan diri dari makanan, minuman, dan hubungan suami-isteri (setubuh, jimâ') sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Firman Allah: "Maka sekarang campurilah mereka (istri-istrimu) dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu, makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam" (QS. 2. al-Baqarah: 187)

Beberapa  hal yang membatalkan puasa

1.makan minum dengan sengaja pada siang hari dibulan ramadhan

"Dari Abu Hurairah ra.: bahwa sesungguhnya nabi saw. telah bersabda : Barangsiapa yang terlupa/tidak sengaja, sedang dia dalam keadaan puasa, kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya. Hal itu karena sesungguhnya Allah hendak memberinya karunia makan dan minum " (Hadits Shahih, riwayat Al-Jama'ah kecuali An-Nasai).

2.Muntah yang di sengaja

 Dari Abu Hurairah ra. bahwa sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Barang siapa yang muntah dengan tidak sengaja, padahal ia sedang puasa - maka tidak wajib qadha ( puasanya tetap sah ), sedang barang siapa yang berusaha sehinggga muntah dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqadha ( puasanya batal ). ( H.R : Abu Daud dan At-Tirmidziy )

3.Datang haidh

 Diriwayatkan dari Aisyah ra ia berkata : Disaat kami berhaidh ( datang bulan ) dimasa Rasulullah saw. kami dilarang puasa dan diperintah untuk mengqadhanya dan kami tidak diperintah untuk mengqadha shalat. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

4.Tidak berniat berpuasa

Mungkin ada diantara kita yang pada malam hari dia berniat berpuasa tapi tengah jalan terbesit dalam hatinya untuk tidak berpuasa maka niat puasanya menjadi batal.

Diriwayatkan dari Hafshah, ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. Barang siapa yang tidak berniat untuk puasa ( Ramadhan ) sejak malam, maka tidak ada puasa baginya. ( H.R : Abu Daud ) hadits shahih.
Dalil kedua,telah bersabda Rasulullah saw: Bahwa sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat  ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

5.Bersetubuh pada siang hari di bulan ramadhan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Sesungguhnya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah saya terlanjur menyetubuhi istri saya (di siang hari) padahal saya dalam keadaan puasa ( Ramadhan ), maka Rasulullah saw bersabda : Punyakah kamu seorang budak untuk dimerdekakan ? Ia menjawab : Tidak. Rasulullah saw bersabda : Mampukah kamu puasa dua bulan berturut-turut ? Lelaki itu menjawab : Tidak. Beliau bersabda lagi : Punyakah kamu persediaan makanan untuk memberi makan enam puluh orang miskin ? Lelaki itu menjawab : Tidak. Lalu beliau diam, maka ketika kami dalam keadaan semacam itu, Rasulullah  datang dengan membawa satu keranjang kurma, lalu bertanya : dimana orang yang bertanya tadi ? ambilah kurma ini dan shadaqahkan dia. Maka orang tersebut bertanya : Apakah kepada orang yang lebih miskin dari padaku ya Rasulullah ? Demi Allah tidak ada diantara sudut-sudutnya ( Madinah ) keluarga yang lebih miskin daripada keluargaku. Maka Nabi saw. lalu tertawa sampai terlihat gigi serinya kemudian bersabda :Ambillah untuk memberi makan keluargamu. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

Semakin bertambah pengetahuan kita tentang syariat agama ini hendaknya menjadi motivator kita untuk mencapai derajat ketakwaan yang sempurna,kepada semua pembaca semoga kita semua dijadikan golongan orang yang mutakin/bertakwa amin.

Monday, June 17, 2013

Fikih Puasa untuk bekal puasa ramadhan



Lampu dunia berkilau kuning keemasan menyinari jagad raya dikala malam gelap gulita.sang bulan tampak berseri menyambut malam pertenganhan bulan syaban,menjadi bidadari diantara kerlipan bintang gemintang mengapung diatas awan sebagai tanda kebesaran sang penguasa alam.tapi yang jadi pelajaran bagi kita adalah ramadhan yang akan segera datang,yang perlu kita sambut dengan bekal iman dan ketakwaan ,demi mencapai tujuan yang kita cita citakan,menjadi hamba yang di liputi dengan ketakwaan.kita siapkan ilmu tentang ibadah wajib dan sunah yang akan kita amalkan dibulan ramadhan ,agar ibadah kita menjadi sebaik baik amalan yang akan mendapatkan imbalan kemuliaan disisi Allah sang pemelihara alam.

Puasa ramadhan  menjadi amalan wajib bagi orang yang beriman dan ini adalah merupakan rukun islam yang ke empat  ,hal ini menjadi wajib bagi kita untuk mempelajari tentang ilmu puasa,pada kesempatan postingan kali ini akan sedikit kita bahas tentang dalil tentang puasa,syarat wajib puasa syarat ,syarat syahnya puasa dan lainya yang berkaitan dengan puasa.

1.Dalil tentang Puasa Ramadhan
Perkara ibadah hokum dasarnya adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkannya,dibawah ini tertera tentang dalil puasa ramadhan baik dari alquran ataupun hadist,dengan mengetahui dalil ini diharapkan kita semakin mantap dalam menjalankan puasa kita.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka, barang siapa di antara kalian sakit atau berada dalam perjalanan (lalu berbuka), (dia wajib berpuasa) sebanyak hari yang ia tinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Wajib bagi orang-­orang yang berat menjalankannya, (jika mereka tidak berpuasa), membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan dengan kerelaan hati, itulah yang lebih baik baginya. Berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-­penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Oleh karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia ber­puasa pada bulan itu, dan barangsiapa yang sakit atau berada dalam perjalanan (lalu berbuka), (dia wajib berpuasa) sebanyak hari yang ia tinggal­kan itu pada hari-hari yang lain. Allah meng­hendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak meng­hendaki kesukaran bagi kalian. Hendaklah kalian mencukupkan bilangan (bulan) itu dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberi­kan kepada kalian supaya kalian bersyukur.” [Al-Baqarah: 183-185]

Dalam hadits Abdullah bin Umar riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa puasa adalah salah satu rukun Islam yang agung dan mulia,
بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun di atas lima (perkara, pondasi): Syahadat Lâ Ilâha Illallâh wa Anna Muhammadan ‘Abduhu wa Rasûluhu, mendirikan shalat, me­ngeluarkan zakat, berhaji ke Rumah Allah, dan berpuasa Ramadhan.” 

2.syarat wajib puasa

1.Islam
Apa bila kita Bergama islam maka kita wajib mengikuti syariat islam dan puasa ini termasuk menjadi syariat yang diwajibkan ketika menjadi seorang muslim.bagi mereka yang kafir tidak mendapat beban syariat ini akan tetapi mereka akan mendapatkan hukuman di akhirat nanti kana dak mau beriman dan menjadi muslim.

2.Taklif
Taklif ini mempunyai pengertian orang islam yang berakal dan Baligh,apa bila tidak terpenuhi salah satu diantara sifat taklif ini maka tidak ada kewajiban melaksanakan puasa,maksudnya jika orang itu baligh tapi tidak berakal(gila,pinsan,ayan,mabok) maka tidak wajib puasa dan sebaliknya walaupun berakal tapi belum baligh maka tidak wajib puasa.

Dalilnya ialah hadis Ali r.a. bahawa Nabi SAW bersabda :
Diangkat qalam (tulisan amalan) daripada tiga jenis manusia : daripada orang tidur sehingga dia bangun, daripada kanak-kanak sehingga dia bermimpi (baligh) dan daripada orang gila sehinggalah dia berakal“. (Abu Daud (4403) dan selainnya).


3.Tidak ada udzur yang menghalangi puasa atau sesuatu yang mengharuskannya berbuka.
Udzur  yang menghalangi puasa  berupa haid dan nifas pada siang hari dan juga mengalami pinsan atau gila pada siang hari maka tidak wajib puasa.

Keuzuran yang mengharuskan berbuka ialah :

1. Sakit yang mendatangkan mudharat yang besar ataupun sakit dan kebimbangan yang amat dahsyat kepada orang yang berpuasa. Jika penyakitnya itu menjadi semakin teruk ataupun kesakitan itu semakin dahsyat (jika dia berpuasa), dan dia bimbang dia akan mati (sekiranya dia meneruskan puasanya), maja pada waktu itu dia wajib berbuka.

2. Musafir yang jauh tidak kurang daripada 83 km dengan syarat ia adalah pemusafiran yang dibenarkan dan mencakupi seluruh hari.

Mengenai seorang yang berpuasa, pada waktu paginya dia bermukim, kemudian dia bermusafir pada waktu siang, maka dia tidak dibenarkan berbuka.

Dalil kedua-dua penguzuran ini ialah firman Allah ;
 dan sesiapa yang sakit atau dalam musafir maka (bolehlah ia berbuka, Kemudian wajiblah ia berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain“. (Al-Baqarah : 185)

3. Tidak mampu berpuasa. Oleh itu tidak wajib berpuasa disebabkan terlalu tua atau sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh karena puasa hanya wajib terhadap orang yang mampu melakukannya.
Dalilnya adalah firman Allah ;

dan wajib atas orang-orang yang tidak berdaya berpuasa (kerana tua dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin.” (Al-Baqarah : 184)

Dibacakan juga ‘Yutawwaqunahu’ yang bermaksud jika mereka tetap diwajibkan melakukannya (puasa), nescaya mereka tidak mampu melakukannya.

Ibnu Abbad r.a. berkata : Yang dimaksudkan ialah orang lelaki dan perempuan yang terlalu tua, keduanya tidak mampu untuk berpuasa, kedua-duanya hendaklah menggantikan setiap hari puasa dengan memberi makan seorang fakir miskin. Riwayat Bukhari (4235).
Syarat-syarat sah yang dikerjakan oleh orang yang berpuasa ramadhan ada empat (4) perkara :

1. Orang Islam. tidak sah puasanya orang kafir.
2. Orang yang berakal sehat. tidak sah puasanya orang yang hilang akalnya, karena gila, ayan atau mabuk.
3. Orang yang telah putus dari darah haidh, nifas, dan wiladah. sekalipun  belum mandi wajib untuk mensucikan diri dari haidh,nifas, wiladahnya. tidak sah puasanya orang yang sedang haidh,nifas,wiladah. Tetapi wajib mengkodho puasa yang ditinggalkan.tidak wajib mengkodho shalat fardhu yang ditinggalkan.
4. Waktu yang diterima untuk mengerjakan puasa. tidak sah puasa pada hari raya fitrah,hari raya adha, dan 3 hari sesudah adha yang disebut hari tasyriq. Itulah hari-hari yang haram berpuasa, meskipun puasa wajib, karena nadzar, qodho wajib mudhayyaq dll.

Demikian postingan tentang syarat wajib dan syahnya puasa insyaallah akan berlanjut ke masalah lainnya yang berkaitan dengan puasa,semoga bermanfaat amin.

Tuesday, June 11, 2013

Malam Nishfu Sya'ban



Di antara kita pasti sudah pernah mendengar tentang malam nisfu sya’ban atau malam pertengahan bulan sya’ban.banyak cerita tentang malam nisfhu sya’ban ini yang bertebaran di masyarakat Indonesia,serta cara menyambutnya juga macam macam.pada kesempatan postingan kali ini marilah kita mencari tahu tentang malam nishfu sa’ban.

Rasululloh صلى الله عليه و سلّم  bersabda:
(يَطَّلع الله إلى خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا مشرك أو مشاحن )
“Allah melihat kepada makhluknya pada malam nishfu sya’ban, maka Allah mengampuni mereka semua kecuali orang yang musyrik dan musyaahin “.
 ( و في رواية: ( ينزل ربّنا تبارك و تعالى ليلة النصف من شعبان فيغفر لكلّ نفس إلا مشرك و مشاحن
Dalam riwayat yang lain:
“Allah -Tuhan kita- turun pada malam nishfu Sya’ban, seraya mengampuni semua jiwa kecuali yang musyrik dan musyaahin”.

Sehingga pada malam nisfhu sa’ban ini kita dianjukan untuk memperbanyak melakukan amalan ibadah sebagaimana 

hadits riwayat Aisyah r.a.
عن عائشة بنت أبي بكر قالت: «قام رسول الله من الليل يصلي، فأطال السجود حتى ظننت أنه قد قبض، فلما رأيت ذلك قمت حتى حركت إبهامه فتحرك فرجعت، فلما رفع إلي رأسه من السجود وفرغ من صلاته، قال: يا عائشة أظننت أن النبي قد خاس بك؟، قلت: لا والله يا رسول الله، ولكنني ظننت أنك قبضت لطول سجودك، فقال: أتدرين أي ليلة هذه؟ قلت: الله ورسوله أعلم، قال: هذه ليلة النصف من شعبان، إن الله عز وجل يطلع على عباده في ليلة النصف من شعبان، فيغفر للمستغفرين، ويرحم المسترحمين، ويؤخر أهل الحقد كما هم»

Dari Aisyah radhiyallahu anha berkata bahwa Rasulullah SAW bangun pada malam dan melakukan shalat serta memperlama sujud, sehingga aku menyangka beliau telah diambil. karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan selesai dari shalatnya, beliau berkata, “Wahai Asiyah, (atau Wahai Humaira’), apakah kamu menyangka bahwa Rasulullah tidak memberikan hakmu kepadamu?”Aku menjawab, “Tidak ya Rasulallah, namun Aku menyangka bahwa Anda telah dipanggil Allah karena sujud Anda lama sekali.” Rasulullah SAW bersabda, “Tahukah kamu malam apa ini?” Aku menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.”Beliau bersabda, “Ini adalah malam nisfu sya’ban (pertengahan bulan sya’ban). Dan Allah muncul kepada hamba-hamba-Nya di malam nisfu sya’ban dan mengampuni orang yang minta ampun, mengasihi orang yang minta dikasihi, namun menunda orang yang hasud sebagaimana perilaku mereka.” (HR Al-Baihaqi)

Jelaslah sudah bahwa dimalam nisfu sya’ban kita dianjurka untuk memperbanyak amalan ibadah dengan ikhlas dan mutaba'ah seperti membaca alquran,berdzikir dan melakukan sholat malam,dan siangnya kita bisa melaksanakan puasa putih/ayamul baith  dari selama tiga hari .insyaallah kita akan menjadi orang yang diampuni di kasihi dan senantiasa di mulyakan Allah swt.didunia dan ahirat.amin.

Sunday, June 9, 2013

Amalan dan keutamaan di Bulan Sya'ban



Pintu menuju bulan ramadhan adalah bulan syaban,kata ini berarti dalam bahasa arab kata Syi'ab, yang artinya adalah jalan di atas gunung. Ada pula yang menamakan Sya'ban karena orang-orang Arab pada bulan tersebut yatasya'abun (berpencar) untuk mencari sumber air.
Dikatakan demikian juga karena mereka tasya'ub (berpisah-pisah/berpencar) di gua-gua.

Dan juga dikatakan sebagai Bulan Sya'ban juga karena bulan tersebut sya'aba (muncul) di antara dua bulan Rajab dan Ramadan.
Jamaknya adalah Sya'abanaat dan Sya'aabin.

Di bulan Ramadhan kita dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunah seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, beristighfar, shalat tahajud dan witir, shalat dhuha, dan sedekah. Untuk mampu melakukan hal itu semua dengan ringan dan istiqamah, kita perlu banyak berlatih. Di sinilah bulan Sya’ban menempati posisi yang sangat urgen sebagai waktu yang tepat untuk berlatih membiasakan diri beramal sunah secara tertib dan kontinyu. Dengan latihan tersebut, di bulan Ramadhan kita akan terbiasa dan merasa ringan untuk mengerjakannya. Dengan demikian, tanaman iman dan amal shalih akan membuahkan takwa yang sebenarnya.

Abu Bakar Al-Balkhi berkata: “Bulan Rajab adalah bulan menanam. Bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman. Dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen hasil tanaman.”
Beliau juga berkata: “Bulan Rajab itu bagaikan angin. Bulan Sya’ban itu bagaikan awan. Dan bulan Ramadhan itu bagaikan hujan.”

Barangsiapa tidak menanam benih amal shalih di bulan Rajab dan tidak menyirami tanaman tersebut di bulan Sya’ban, bagaimana mungkin ia akan memanen buah takwa di bulan Ramadhan? Di bulan yang kebanyakan manusia lalai dari melakukan amal-amal kebajikan ini, sudah selayaknya bila kita tidak ikut-ikutan lalai. Bersegera menuju ampunan Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya adalah hal yang harus segera kita lakukan sebelum bulan suci Ramadhan benar-benar datang.

Rosulullah memperbanyak ibadah dibulan syaban diantaranya tertera didalam riwayat dibawah ini:
Suatu waktu sahabat Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu memperbanyak berpuasa  (selain Ramadhan) kecuali pada bulan Sya'ban? Rasulullah saw. menjawab: "Itu bulan dimana manusia banyak melupakannya, yaitu antara Rajab dan Ramadhan. Di bulan itu segala perbuatan dan amal baik diangkat ke Tuhan semesta alam, maka aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan puasa". (HR. Abu Dawud dan Nasa'i).

Dalam Riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Sayyidatina Aisyah r.a. berkata: “Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyempurnakan shaum selama satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat beliau memperbanyak shaum dalam satu bulan kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari No. 1833, Muslim No. 1956).

Dilain tempat beliau (sayyidatina Aisyah r.a.) juga berkata: "Suatu malam Rasulullah saw. shalat, kemudian beliau bersujud panjang sehingga aku menyangka bahwa Rasulullah saw. telah diambil. Karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulullah saw. selesai shalat beliau berkata: "Hai Aisyah engkau tidak dapat bagian?". Lalu aku menjawab: "Tidak ya Rasulullah, aku hanya berfikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulullah saw. telah tiada) karena engkau bersujud begitu lama". Lalu beliau bertanya: "Tahukah engkau, malam apa sekarang ini". "Rasulullah yang lebih tahu", jawabku. Beliau pun berkata: "Malam ini adalah malam nisfu Sya'ban, Allah mengawasi hamba-Nya pada malam ini, maka Ia memaafkan mereka yang meminta ampunan, memberi kasih sayang mereka yang meminta kasih sayang dan menyingkirkan orang-orang yang dengki." (H.R. Baihaqi dari Ala’ bin Harits).

Jika kita cermati, beberapa riwayat diatas setidaknya memberikan penjelasan kepada kita akan keutamaan-keutamaan bulan Sya’ban. Dikatakan bahwa bulan Sya’ban ialah bulan dimana amal-amal perbuatan manusia diangkat ke hadirat Tuhan penguasa alam. Bulan Sya’ban juga merupakan bulan dimana Allah swt. -saat malam pertengahan bulan Sya’ban- mengawasi hamba-hamba-Nya (adakah diantara mereka yang mendirikan qiyamul lail  saat itu), memaafkan mereka yang memohon ampunan, mencurahkan kasih saying bagi mereka yang mengharapkannya dan menyingkirkan hamba-hamba-Nya yang bersifat pendengki.

Dengan sedikit informasi ini semoga akan menambah semangat kita untuk menjadi seorang muslim yang lebih kuat iman semakin bertakwa sehingga kita akan senantiasa mendapatkan keberkahan dan kasih sayang Allah swt amin.