Social Icons

Pages

Saturday, August 9, 2014

Sujud Tilawah




"Wasjud Waqtarib" demikianlah Allah swt menutup firmannya dalam surat al-Alaq. Suatu statemen yang tegas dan gamblang. Bahwa sujud merupakan wahana paling efesien untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Memang secara psiklogis sujud memiliki nilai lebih dibandingkan dengan rukun shalat yang lain. Karena ketika sujud posisi seseorang benar-benar mununjukkan kerendahannya di hadapan Sang Khaliq. Bagaimana tidak, kepala yang menjadi bagian paling istimewa dalam tubuh manusia dan tempat bersemayamnya pancaindera. Juga anggota tubuh yang paling dimuliakan oleh manusia, tiba-tiba diposisikan begitu rendahnya hingga rata dengan tanah, tempat kaki berpijak.

Sujud menjadi sebuah cara bagi hamba mendekatkan kepada Alloh Swt ,karena dalam sholatpun kita selalu melakukan sujud engan sujud ini berarti kita merendahkan diri dihadapan Ilahi Robbi dan pada saat itu pula kita berada sangat dekat dengan Alloh,selain dalam sholat kita disunahkan untuk melakukan sujud ketika mendengar kabar yang menggembirakan dengan sebutan sujud syukur,selain itu ketika kita membaca alquran kita juga disunahkan untuk melakukan sujud tilawah ketika bertemu dengan ayat As-sajadah yang diantaranya kita temukan pada ayat berikut ini,

Sepuluh ayat yang disepakati sebagai ayat sajadah
  1. QS. Al A’rof ayat 206
  2. QS. Ar Ro’du ayat 15
  3. QS. An Nahl ayat 49-50
  4. QS. Al Isro’ ayat 107-109
  5. QS. Maryam ayat 58
  6. QS. Al Hajj ayat 18
  7. QS. Al Furqon ayat 60
  8. QS. An Naml ayat 25-26
  9. QS. As Sajdah ayat 15
  10. QS. Fushilat ayat 38 (menurut mayoritas ulama), QS. Fushilat ayat 37 (menurut Malikiyah)
Empat ayat yang termasuk ayat sajadah namun diperselisihkan, akan tetapi ada dalil shahih yang menjelaskannya
  1. QS. Shaad ayat 24
  2. QS. An Najm ayat 62 (ayat terakhir)
  3. QS. Al Insyiqaq ayat 20-21
  4. QS. Al ‘Alaq ayat 19 (ayat terakhir)
Satu ayat yang masih diperselisihkan dan tidak ada hadits marfu’ (hadits yang sampai pada Nabi) yang menjelaskannya, yaitu surat Al Hajj ayat 77. Banyak sahabat yang menganggap ayat ini sebagai ayat sajadah semacam Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Abu Musa, Abud Darda, dan ‘Ammar bin Yasar.

Syarat Sujud Tilawah
      1. Suci badan, pakaian dan tempat sujud.
      2. Menutup aurat.
      3. Menghadap kiblat.
      4. Sujud setelah selesai membaca ayat Sajadah.
      5. Dalam solat berjamaah, makmum wajib mengikuti Imam bersujud Tilawah. Gugur  solat berjamaahnya, jika tidak ikut bersujud.
 .
Rukun Sujud
     1.  Niat Sujud Tilawah
                                               
 “Daku melakukan Sujud Tilawah kerana Allah Ta‘ala”
     2.  Bertakbir
     3.  Sujud
     4.  Salam.
.
Bacaan Sujud Tilawah (Sajadah)
.
Dalam Sujud Tilawah dianjurkan membaca:
                          
Sa-ja-da  waj-Hi-ya  lil-la-dziy  kho-la-qo-hu  wa-shaw-wa-ra-Hu  wa-syaq-qo  sam-‘a-Hu  wa-ba-sho-ro-Hu  bi-
hau-li-hi  wa-quw-wa-ti-Hi  fa-ta-baa-ro-kaL  Laa-Hu  ah-san-ul  khoo-li-qiyn .

“Aku bersujud kepada Allah yang menjadikanku, memberikan pendengaranku dan penglihatanku dengan Kekuasaan-Nya dan Kudrat-Nya. Maka Maha Suci Allah, Dialah sebaik-baik pencipta kejadian.”

Sunday, August 3, 2014

Tradisi mudik lebaran



Hiruk pikuk masyarakat Indonesia sangat terlihat di mana mana,dari pasar terminal dan juga jalan jalan antar propinsi yang dipenuhi oleh banyak kendaraan dan sepeda motor para pemudik.inilah wajah budaya bangsa kita yang mempeunyai tradisi mudik dietiap hari besar dan hari libur panjang untamanya hari raya Idul Fitri,masyarakat ibu kota berbondong bondong pulang kampung untuk merayakan hari kemenangan dan hari kegembiraan bersama keluarga besar tercinta.melepas kerinduaan yang selama setahun terhalang oleh kesibukan dan aktivitas lainnya.

Sebenarnya nilai posotif apa yang bisa kita ambil dari sebuah tradisi ini ,coba mari kita kulas bersama sama agar kita maendapat hikmah dibalik kerja keras dan perjuangan mudik ini.tentunya ada hal yang mendasari dan mendorong tradisi ini terus berkembang dan semakin tahun semakin meningkat.

      Ini mungkin menjadi alasan yang prioritas pertama ,bertemunya keluarga melepas rindu dan menjaga suasanan hati dalam ikatan keluarga terutama kedua orang tua,walau bagaimanapun orang tua kita lah yang memberi peran terpenting dalam perjalanan hidup seseorang.seorang ibu yang telah melahirkan kita dengan mempertaruhkan antara hidup dan mati ,darah dan keringat bercampur dangan rasa sakit,hanya untuk melahirkan seorang anak,dan demikian pula dengan seorang ayah yang ketika itu berjuang mencari nafkah tak kenal lelah panas hujan berangkat pagi pulang petang berjalan mencari rejeki Alloh hanya untuk keluarga dan anak anak tercinta, ketika menjadi besar dan berhasil tentunya sebagai rasa terima kasih kita dan rasa syukur kita terus menjaga silaturahim dan berbuat birulwalidain ,setinggi apapun pangkat dan jabatan kita, entah itu jendral,menteri bahkan presiden tetap posisi kita adalah sebagai anak yang mempunyai kewajiban berbakti dan sayang kepada orang tua.sehingga yang paling baik setelah sholat idul fitri kita datang kepada orang tua meminta maaf dan juga sekaligus meminta ridho dari kedua orang tua tercinta,karena ridho alloh tergantung pada ridho orang tua.sebagaimana hadist berikut ini.

عَنْ عَبْدُ الله بن عَمْرٍو رضي الله عنهما قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: رِضَى اللهُ فى رِضَى الوَالِدَيْنِ و سَخَطُ الله فى سَخَطُ الوَالِدَيْنِ ( اخرجه الترمذي وصححه ابن حبان والحاكم)

Artinya: dari Abdullah bin ‘Amrin bin Ash r.a. ia berkata, Nabi SAW telah bersabda: “ Keridhoaan Allah itu terletak pada keridhoan orang tua, dan murka Allah itu terletak pada murka orang tua”. ( H.R.A t-Tirmidzi. Hadis ini dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim)[1][1]

Di samping itu ,selain kita ingin bertemu keluarga dekat juga ingin bertemu dengan para tetangga atau teman lama yang mereka tinggal dikampung halaman untuk bercerita mungkin mengenang masa kecil saat sekolah dulu yang tentunya akan menambah kehangatan persaudaraan sesama muslim ,dan kebahagiaan yang tak bisa terhitung dengan materi.dan jikalau kita mempunyai rejeki yang cukup maka saat mudik bisa menjadi saat berbagi rejeki,dengan menyisihkan sebagaian harta kita sebagai bentuk zakat mal,tak harus banyak yang penting ikhlas dan membuat saudara senang,sekaligus sebagai ibadah .insyaalloh Alloh akan melapangkan rejeki kita dan memanjangkan umur kita sebagaimana hadist rosululloh,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Artinya: “Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.”

Demikian uraian sedikit tentang mudik semoga memberi manfaat dan kebaikan bagi kita semua.

Monday, January 6, 2014

Mengambil Hikmah Maulud Nabi Muhammad SAW



Maulud nabi merupakan peristiwa penting yang selalu diperingati oleh sebagian besar umat muslim didunia,diantara di negeri kita Indonesia.walaupun kadang sering terjadi perbedaan pendapat tentang boleh atau tidaknya memperingati mauled nabi yang terus menjadi bahan diskusi,akan tetapi dalam kenyataannya di masyarakat masih terus berlangsung adanya peringatan peringatan maulud nabi Muhammad saw.untuk sementara waktu kita lupakan perbedaan itu dan kita mencoba mencari , hal yang menarik yang bisa kita gali apa yang menjadi penyebab peringatan ini terus di laksanaknan disebagian besar kalangan umat muslim Indonesia.

Indonesia mempunyai akar rumput banyak perbedaan dari mulai suku, bahasa, dan adat istiadat,serta berbagai agama yang exist di Negara kita,akan tetapi ada sebuah kesamaan yang menjadi cirri khas bangsa kitasebagai pemersatu bangsa,apakah itu ?ternyata masyarakat Indonesia menpunyai sikap gotong royong yang hal ini mungkin susah didapatkan dari Negara lain.kemudian apa hubungannya dengan maulud nabi.
Dalam peringatan maulud nabi biasanya umat muslim melakukan acara pengajian umum ataupun acara lainya yang  bertemakan meningkatkan iman dan takwa ,dalam penyelenggaraanya membutuhkan dukungan baik moral ataupun materiil dari seluruh unsur masyarakat.hal ini menuntut sikap gotong royong diantara masyarakat yang berujud pada bentuk sumbangan dan kerjasama mereka demi suksesnya pengajian/acara tersebut. hal ini mencerminkan bentuk pengamalan dari alquran yang menganjurkan agar kita bekerjasama dalam hal kebaikan dan takwa dan tidak bekerja sama dalam perbuatan dosa.

Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa dan janganlah kalian tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaan-Nya“. Al-Ma’idah:2

Bangsa kita adalah bangsa yang berbudaya dan masyarakatpun sangat teguh dalam mempertahankan budaya tersebut,walaupun tidak kita pungkiri ada juga diantara kita yang sudah tergerus arus budaya asing atau barat,yang menyebakan terjadinya degradasi moral para generasi penerus kita.dalam peringatan maulid nabi Muhammad SAW sering disisipkan acara yang mengandung unsure budaya yang memiliki nilai positi seperti  rebana yang mengalunkan sholawat dan puji pujian berisi nasehat ataupun yang lainnya,walaupun bukan merupakan asli budaya kita akan tetapi itu merupakan hasil dari akulturasi masyarakat yang berbeda menjadi satu dalam ikatan bhineka tunggal ika.

Masa depan sebuah bangsa akan ditentukan oleh generasi muda yang akan melanjutkan estate perjuangan bangsa,hal ini menuntut adanya peran akti pemuda dalam menghasilkan produktivitas positi yang bisa bermanaat bagi masyarakat umumnya,dengan peringatan maulud nabi akan memberikan kesempatan para pemuda untuk berperan akti membangun masyarakt yang beriman dan bertakwa.karena kalau kita amati  acara peringatan maulud nabi lebih sering diprakarsai oleh kaum muda.sehingga kaum muda kita akan menjadi kaum muda yang hatinya lebih terpaut dengan masjid sehingga akan menjadi pemuda yang akan mendapatkan perlindungan di akhirat nanti. 

Berkata Abu Hurairah r.a : bahwa Nabi SAW telah bersabda: “Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Mereka adalah pemimpin yang adil, anak muda yang senantiasa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan mesjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab: “Sungguh aku takut kepada Allah”, seseorang yang mengeluarkan shadaqah lantas disembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian ia mencucurkan air mata”. (H.R.Bukhary-Muslim).

Masyarakat kita yang semakin disibukan dengan masalah pekerjaan,kebutuhan hidup yang semakin mahal,dan masih banyak lagi maslah social yang mereka hadapi ,yang menyebabkan tinggat stress dimasyarakat meningkat,dan salah satu cara mengobati stress ini adalah berupa nasehat.mungkin jika kita mendengarkan nasehat dari seseorang secara empat mata,kita akan merasa risih dan canggung bahkan tidak maumendengarkan nasehat itu ,akan tetapi lain keadaanya jika kita duduk dipengajian maulidan mendengarkan nasehat agama tentang kehidupan yang disampaikan oleh mubaligh yang kadang dimasuki humor yang produkti,tentunya kita akan lebih enak mendengarnya dan masuk dalam hati sekaligus dengan humor tersebut untuk sesaat kita bisa melupakan beban diluar sana.ternyata nasehat nasehat dari pengajian bisa menjadi obat jiwa bagi kita,dan alangkah baiknya masyarakat bukan hanya mendengarkan pengajian pada saat muludan aja akan tetapi diharapkan mau mengadakan pengajian routine baik itu mingguan ataupun bulanan untuk memupuk ukhuwah dan kekeluargaan diantara umat . Betapa pentingnya nasehat sehingga nabi bersabda
“Agama adalah nasihat bagi Allah, bagi Rasul-Nya, untuk para pemimpin umat Islam dan untuk para orang awamnya.” ( H.R Bukhari)

Tentunya kita sepakat dengan memperingati hari maulud nabi ini kita tingkatkan rasa gotong royong menjalin ukhuwah dan silaturahmi, mengoptimalkan peran serta kaum muda islam dalam menjaga budaya islam dan bangsa kita untuk mewujudkan masyarakat yang islami,dengan didasari saling cinta karena Allah,dan saling memberikan nasehat nasehat agama yang akan menyejukan hati hati kita menggapai hidup yang mulia di dunia dan akhirat.
Sebagai penutup tulisan ini ternyata memperingati maulud nabi dengan mengadakan pengajian umum atau yang lainnya bisa memberikan dampak yang baik.akan tetapi perlu kita garis bawahi bahwa dengan maulud nabi kita bersyukur mendpatkan rahmat yang terbesar bagi sekalian alam,dan mampu mencontoh dan meneladani nabi kita tercinta Muhammad SAW,karna sungguh pada diri Rosullulloh terdapat suritauladan yang baik bagi umatnya. “Adalah pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi sesiapa yang berharap untuk bertemu dengan Allah dan Hari Akhirat, dan mengingati Allah sebanyak-banyaknya”.
(Surah Al Ahzab ayat : 21)

Thursday, September 26, 2013

Keutamaan 10 hari diawal bulan Dzulhijah



Menyambut bulan dzulhijah menjadi terasa penting karena pada bulan dzulhijah terdapat peristiwa ibadah besar diantaranya diwajibkannya haji bagi setiap muslim yang manpu.dan yang belum bisa berangkat menjdai tamu Allah hendaknya jangan berputus asa tekadkan niat dan usaha semoga suatu saat nanti jatuh giliran bagi kita,diperkenankan Allah untuk menjadi tamunya.ada  banyak keutamaan yang terdapat di ulan dzulhijah yang bisa kita dapatkan jika kita mau melaksanakan ibadah yang disunahkan dibulan dzulhijah ini.dan diantara keutamaan yang ada adalah terdapat di 10 hari awal bulan dzulhijah,
 
Demi Fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al Hajr:1-2)
Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam ayat ini Allah Ta’ala telah bersumpah dengan “sepuluh hari” 

pertama dari bulan Dzulhijjah ini. Pendapat ini pula yang dipilih oleh Ibnu Jarir ath Thabari dan Ibnu Katsir rahimakumullah dalam kitab tafsir mereka.
Selain itu kita juga bisa menyimak keterangan dari beberapa hadist rosullulloh dibawah ini,
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan dan Al-Turmudzi dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
(Tidaklah ada suatu hari di mana amal-amal sholeh padanya lebih dicintai oleh Allah selain dari hari-hari sepuluh pertama bulan Dzul Hijjah ini”. Para shahabat bertanya: Tidak juga berjihad di jalan Allah wahai Rasulullah?. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab: Tidak juga berjihad di jalan Allah kecuali seorang lelaki yang berjuang di jalan Allah dengan diri dan hartanya lalu dia tidak membawa kembali sedikitpun dari harta dan jiwa yang telah dibawanya). (Sahih Bukhari: no: 969 dan Sunan Turmuzi no: 757 )
keutamaan yang lebih khusus pada hari kesembilan sebagai hari ‘Arafah.
Pada hari ini para jama’ah Haji melaksanakan wukuf di ‘Arafah, dan wukuf ini merupakan rukun utama dari ibadah Haji. Karenanya hari ini menjadi hari yang memiliki keitamaan yang agung dan keberkahan yang melimpah. Diantara keutamaannya, bahwa sesungguhnya Allah menggugurkan dosa-dosa (dosa kecil) selama dua tahun bagi orang yang berpuasa pada hari ‘Arafah.
Dari Abu Qatadah al Anshari radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pernah ditanya tentang puasa pada hari ‘Arafah, maka beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “(Puasa pada hari itu) mengugurkan dosa-dosa setahun yang lalu dan dosa-dosa setahun berikutnya.” (HR.Muslim)
Di sunnahkan pula untuk berpuasa ‘Arafah bagi mereka yang tidak ber Haji (yang berada di luar ‘Arafah). Sebagaimana petunjuk Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, adalah beliau berbuka (tidak berpuasa) ketika berada di ‘Arafah pada hari ‘Arafah (sedang ber haji). (lihat shaih Bukhari kitab al Hajj dan shahih Muslim kitab ash Shiyaam)
Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan, “Berbukanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pada hari ‘Arafah itu mengandung beberapa hikmah, diantaranya memperkuat do’a di ‘Arafah, bahwa berbuka dai puasa yang wajib saja disaat perjalanan safar lebih utama , maka apa lagi dengan puasa yang hanya hukumnya sunnah…” Ibnul Qoyyim melanjutkan, “Guru kami, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengambil jalan yang berbeda dengan orang lain, yaitu bahwa hari ‘Arafah merupakan hari raya bagi mereka yang sedang berwukuf di ‘Arafah dikarenakan pertemuan mereka disana, seperti pertemuan mereka di hari raya (yaumul ‘Ied), dan pertemuan ini hanya khusus bagi mereka yang berada di ‘Arafah saja, tidak bagi yang selain mereka…” (Zaadul Ma’aad)
Dan di antara keberkahan hari ‘Arafah berikutnya, pada hari itu banyak orang yang dibebaskan oleh Allah Ta’ala, dia mendekat ke langit dunia dan membangga-banggakan para jama’ah Haji di hadapan para Malaikat. Dari ‘Aisyah radhiallahu anha, ia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
Tidak ada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari adzab neraka daripada hari ‘Arafah. Sesungguhnya Dia (pada hari itu) mendekat, kemudian menbangga-banggakan mereka (para jama’ah Haji) dihadapan para Malaikat.” Lalu Dia bertanya,”Apa yang diinginkan oleh para jama’ah Haji itu?” (HR. Muslim)
Dan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Pada hari ‘Arafah sesungguhnya Allah turun ke langit dunia, lalu membangga-banggakan mereka (para jama’ah Haji) di hadapan para Malaikat, maka Allah berfirman,’Perhatikan hamba-hamba-Ku, mereka datang kepada-Ku dalam keadaan kusut berdebu dan tersengat teriknya matahari, datang dari segala penjuru yang jauh. Aku bersaksi kepada kalian (para Malaikat) bahwa Aku telah mengampuni mereka.’” (HR.Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al Laalikai, dan Imam al Baghawi, hadits shahih)
Keutamaan hari ke sepuluh bulan Dzulhijjah, yaitu ‘Iedul Adh-ha yang disebut juga yaumul Nahr.
Dalil yang menunjukkan keutamaan dan keagungan hari ‘Iedul Adh-ha adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Qurth radhiallahu anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda:
Hari teragung di sisi Allah adalah hari ‘Iedul Adh-ha (yaumul Nahr) kemudian sehari setelahnya…” (HR. Abu Dawud)
Dan hari yang agung ini dinamakan juga sebagai hari Haji Akbar. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari haji akbar.” (QS. At Taubah:3)
Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam juga menyebut hari agung ini dengan sebutan yang sama. Karena sebagian besar amalan-amalan manasik Haji dilakukan pada hari ini, seperti menyembelih kurban, memotong rambut, melontar jumrah dan Thawaf mengelilingi Ka’bah. (Zaadul Ma’aad). Pada hari yang penuh berkah ini, kaum muslimin berkumpul untuk melaksanakan shalat ‘Ied dan mendengarkan khutbah hingga para wanita pun disyari’atkan agar keluar rumah untuk kepentingan ini. Sebagaimana dalam ash Shahihain, bahwa Ummu ‘Athiyyah Nusaibah binti al Harits berkata:
Kami para wanita diperintahkan untuk keluar pada hari ‘Ied hingga hingga kami mengeluarkan gadis dalam pingitan. Juga mengajak keluar wanita-wanita yang sedang haidh, berada di belakang orang-orang. Mereka bertakbir dengan takbirnya dan mereka berdo’a dengan do’anya. Mengharapkan keberkahan dan kesucian dari hari yang agung ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Al Hafidz Ibnu Hajar berkomentar tentang maksud dari kehadiran para wanita tersebut di hari agung ini, sehingga para wanita berhalangan tidak luput dari perintah keluar untuk menghadirinya: “Maksud dari kehadiran mereka adalah menampakkan syi’ar Islam dengan memaksimalkan berkumpulnya kaum muslimin agar barakah hari yang mulia ini dapat meliputi mereka semua.” (Fathul Baari)
Pada hari ini dan setelahnya, yaitu pada hari-hari tasyriq, kaum muslimin bertaqarrub kepada Allah Ta’ala melalui penyembelihan hewan kurban. Dan menyembelih hewan kurban merupakan sebuah syi’ar yang agung dari syi’ar Islam.
Namun apakah sepuluh hari Dzulhijjah ini lebih mulia dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjawab persoalan ini dg jawaban yg tuntas, dimana beliau menyatakan, “Sepuluh hari Dzulhijjah lebih utama daripada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Dan sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan lebih utama dari sepuluh malam bulan Dzulhijjah.” (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah)
Muridnya Ibnul Qoyyim rahimahullah juga menyatakan,” Ini menunjukkan bahwa sepuluh malan terakhir dari bulan Ramadhan menjadi lebih utama karena adanya laitatul Qadr, dan lailatul Qadr ini merupakan bagian dari waktu-waktu malamnya. sedangkan sepuluh hari Dzulhijjah mejadi lebih utama karena hari-harinya (siangnya), karena didalamnya terdapat yaumun Nahr (hari berkurban), hari ‘Arafah dan hari Tarwiyah (hari ke delapan Dzulhijjah). (Zadul Maa’ad)