Social Icons

Pages

Sunday, January 6, 2013

Tujuan Diutusnya Para Rasul



Pembaca yang budiman.asal muasal keturunan  manusia adalah umat yang satu, berawal  dari Nabi yang pertama Adam ‘alaihissalam. Mereka beriman dan menyembah hanya kepada Allah saja. Kemudian datanglah syaitan yang merupakan musuh nyata manusia, berusaha menggoda manusia untuk melakukan perbuaan dosa agar manusia terjerumus kedalam perbuatan dosa,dari mulai dosa yang kecil hingga dosa yang terbesar. seperti kita ketahui dosa syirik adalah dosa yang terbesar yang tak akan diampuni  jika sampai ajal belum bertobat.berdasarkan sejarah nabi Nuh alaihisalam adalah merupakan rosul yang pertama,karena pada masa Nuh inilah mulai manusia melakukan kesyirikan. sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (lihat “Kisah Para Nabi”, Ibnu Katsir)- Hingga tatkala seluruhnya tenggelam dalam kemusyrikan, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nuh ‘alaihi salam.

Demikianlah, setiap kali kemusyrikan merajalela pada suatu kaum, maka Allah mengutus rasul-Nya untuk mengembalikan mereka kepada tauhid dan menjauhi syirik.

 وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “sembahlah Allah
(saja) dan jauhilah thoghut (sembahan selain Allah).” (QS. An Nahl: 36)

وَمَا أَرْسَلنَا مِن قَبلِكَ مِنْ رََسُولٍ إِلا نُوحِي إلَيهِ أنَّه لا إِلهَ إلا أنَا فَاعْبُدُونِ
 “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: bahwa tidak ada sembahan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al Anbiya: 25)

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, Allah subhanahu wa ta’ala tidak lagi mengutus rasul. Hal ini bukanlah dalil bahwa kemusyrikan tidak akan pernah terjadi lagi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagaimana dikatakan beberapa orang. Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala menjamin bahwa akan senantiasa ada segolongan dari umat ini yang berada di atas tauhid dan mendakwahkannya.

Saturday, January 5, 2013

Pondasi dalam islam




 Pondasi dalam islam

Pembaca yang dirahmati Allah tak akan ada banguna yang berdiri megah tanpa adanya pondasi yang kuat,tak akan ada pohon yang tinggi, rimbun dan menghasilkan buah yang manis dan melimpat tanpa adanya akar yang kokoh.Pondasi dan akar yang kuat  akan menjadikan selalu tegar menghadapi tiupan angin kencang dan goncangan dasyat.Demikian pula kita sebagai orang islam harus menyusun pondasi yang kuat dalam menegakkan islam pada diri kita  agar keislaman kita bisa menjadi rahmatallilalamin.pondasi yang utama adalah menyakini kalimat Lailaha illallah.
 
La ilaha illallah adalah dasar agama yang memiliki kedudukan yang amat besar dalam islam.ia merupakan puncak keimanan yang paling tinggi.Penerimaan seluruh amal perbuatan tergantung kepada pengucapan kalimat ini dan pengamalan segala konsekuensinya.
Adapun maknanya yang benar dan tidak boleh di palingkan darinya adalah;la ma buda bi haqqin illallah(tidak ada yang di sembah dengan hak kecuali Allah Swt).Kalimat ini tidak boleh di artikan dengan ;La khaliqa illallah(tidak ada pencipta kecuali Allah Swt)atau La qadira ala al-ikhtira illallah(tidak ada yang kuasa menciptakan kecuali AllahSwt)ataupun La maujuda illallah(tidak ada yang Wujud kecuali Allah Swt).
kalimat ini memiliki makna :
  1. Nafi (peniadaan)yang terdapat dalam kata La ilaha(tidak ada sesembahan yang hak).Kata ini meniadakan yang disembah dari sesuatu apapun.
  2. Itsbat (penetapan),terdapat dalam kata illallah(kecuali allah).Kata ini menetapkan yang disembah hanya Allah Swt semata dan tidak ada sekutu bagiNya.Oleh karena itu ,tidak ada yang disembah selain Allah Swt,dan tidak boleh memalingkan segala bentuk ibadah kepada selain-Nya Barangsiapa mengucapkan kalimat ini dengan memahami maknanya serta mengamalkan isi kandungannya dengan meniadakan syirik,menetapkan ke-esaan Allah Swt serta meyakini dengan haqqul yaqin,maka dia adalah muslim sejati.Begitu juga sebaliknya kalau seseorang mengucapkan kalimat ini tanpa ada keyakinan maka dia adalah seorang munafik.

Tujuan Diciptakannya Manusia



Saudaraku seiman cobalah kita kembali melihat diri kita sendiri agar kita kembali ingat akan kebesaran Allah,dulu kita tidak ada sekarang kita menjadi ada,dan akan kembali tidak ada, itulah sunattullah yang harus dijalani untuk semua ciptaaNya . sesungguhnya keberadaan kita di muka bumi ini tidaklah sia-sia belaka. Allah berfirman (artinya): “Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian sia-sia belaka?” (Al Mu’minun: 115)

Bahkan dengan tegas Allah menyatakan (artinya): “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (mengesakan ibadahnya) kepada-Ku, Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan pada-Ku, Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan Lagi Maha Sangat Kuat” (Adz Dzariyat: 56-58)

Tentunya, ibadah di sini hanyalah berhak diberikan kepada Allah semata, karena Dia-lah satu-satunya Pencipta kita dan seluruh alam semesta ini. Allah berfirman (artinya): “Hai manusia beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dan Dia yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan sebab itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.” (Al Baqarah: 21-22)
Demikianlah hikmah dan tujuan penciptaan kita di muka bumi ini.

Thursday, November 15, 2012

Belajar menjadi lebih baik di Tahun baru 1433 Hijriah




Perputaran waktu yang semakin berjalan ,dari detik ke detik, jam ke jam berubah  hari  dan tahun menandakan adanya alur kehidupan .Waktu yang telah berlalu walaupun satu detik tak akan bisa kembali,dan waktu kedepan walau sedetik tak bisa dihindari.Itulah kekuasaan Allah yang maha besar.Bulan sabit telah terlihat diufuk timur menandakan  bulan muharam telah tiba perubahan tahun telah terjadi, sekarang kita berada di tahun 1433 H.

1433 tahun silam telah menjadi saksi sejarah perubahan tranformasi pergerakan dakwah islam .Hijrahnya nabi Muhammad s.a.w. dari kota mekah ke madinah.Hijrahnya nabi Muhammad dan parra sahabatnya di lakukan  dalam usaha untuk memperkukuhkan kedudukan Islam serta merupakan strategi baru untuk menyebarkan Islam.Peristiwa hijrah orang Islam Makkah ke Madinah berlaku pada 1 Rabiulawal bersamaan 12 September tahun 622 M.Dalam pengertian hijrah ada yang di katakan hijrah makani yaitu perpindahan secara fisik dari satu tempat ketempat yang lain,dan juga hijrah secara maknawi  artinya berpindah dari nilai yang kurang baik menuju nilai yang lebih baik, dari kebathilan menuju kebenaran, dari kekufuran menuju keIslaman. Makna terakhir oleh Ibnu Qayyim bahkan dinyatakan sebagai al-hijrah al-haqiqiyyah. Alasannya hijrah fisik adalah refleksi dari hijrah maknawi itu sendiri.

    Dua makna hijrah tersebut sekaligus terangkum dalam hijrah Rasulullah SAW dan para sahabatnya ke Madinah.ikhwani wa ikhwatilah marilah kita belajar dari peristiwa hijrahnya rosululloh dan sahabatnya mereka berani meninggalkan harta benda yang mereka miliki berpisah dari saudaranya dengan hal yang belum pasti apa yang akan terjadi dimadinah nanti,itu adalah sebuah pengorbana yang luar biasa karena begitu cintanya para sahabat kepada Alloh dan rosulnya,dan hanya semata mata mencari ridho allah mereka melakukan hijrah. Toh kecintaan para sahabat akan Islam mengalahkan kecintaan pada semua itu. Kesucian akidah di atas segalanya. Hal ini sekaligus menegaskan betapa maslahat “din” menempati pertimbangan tertinggi dari maslahat-maslahat yang lain. Pelajaran lain hijrah menegaskan adanya perseteruan abadi antara kebatilan versus kebenaran. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 147 yang artinya : “Kebenaran itu datang dari Rabb-mu maka jangan sekali-kali engkau termasuk orang yang ragu-ragu.

    Untuk menangkap spirit hijrah lebih jauh rumusan sederhana Ibnu Qayyim cukup menarik katanya dalam kata hijrah terkandung arti berpindah “dari” dan berpindah “menuju”. Maksudnya berpindah dari yang semula tidak sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya menuju kepada yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

   Selain dari pada itu kita bisa mengambil pelajaran dari peristiwa hijrahnya nabi Muhammad dan para sahabatnya,bahwa sesuatu yang baik tidak didapatkan hanya sekedar membalik telapak tangan akan tetapi butuh perjuangan keras untuk mencapai tujuan,dan sebuah niatan baik juga harus selalu dikawal dengan doa kepada Allah,dan dengan jalan yang selaras dengan aturan syariat agama islam .insyaallah akan mendapatkan hasil yg diridoi Allah.

    Bila kita amati, kondisi umat Islam sekarang ini mengalami multi krisis, baik dalam sisi politik, sosial, ekonomi, pendidikan, hukum, maupun pemerintahan. Akibat jauh dari ajaran agama, sedikit demi sedikit penyakit wahn (cinta dunia dan benci mati) menyerang mereka. Sehingga penyimpangan terhadap ajaran Islam, merambah semua kalangan umat baik pemerintah, ulama, tentara, kaum kaya maupun masyarakat biasa.Dan perlu ada perubahan untuk semua itu.
Al-Qur’an memberitahukan kepada kita tentang dua perubahan, yaitu perubahan yang positif dan negatif. Untuk menunjukkan perubahan yang positif, Al-Qur’an menegaskan, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri….” (Ar-Ra’d: 11).

     Untuk itu dengan semangat tahun baru hijriah hendaknya kita tananamkan pada diri kita masing masing untuk bisa hijrah ditahun depan menjadi insan yang lebih baik ,mengoreksi kesalahan kesalahan yang ada ditahun kemarin,agar bisa membentuk masyarakat yang rabbani dan membawa kemajuan ahlak bangsa agar menjdai bangsa yang lebih maju dan mendapat keberkahan dari yang pencipta.
Dan hendaknya kita juga berdoa semoga tahun kedepan akan mendapat prestasi yang lebih baik baik dihadapan masyarakat sebagai mahluk social dan dihadapan Allah sebagai hamba yang mutaqin.
Membaca doa awal tahun 3 kali
     Keterangan : Waktu pelaksanaan setelah selesai sholat fardhu Magrib, dengan bunyi do’a awal tahun sebagai berikut :

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم. اللهم انت الابدي القديم الاول وعلى فضلك العظيم وجود ك المعول. وهذا عام جديد قد اقبل. نسألك العصمة فيه من الشيطان واوليائه وجنوده والعون على هذه النفس الامارة بالسوء والاشتغال بما يقربنى اليك زلفى . يا ذاالجلال والاكرام . يا ارحم الراحمين. وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم

Bismillaahir-rahmaanir-rahiim

Wa shallallaahu 'alaa sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa 'aalihi wa shahbihii wa sallam.

Allaahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwalu, wa 'alaa fadhlikal-'azhimi wujuudikal-mu'awwali, wa haadza 'aamun jadidun qad aqbala ilaina nas'alukal 'ishmata fiihi minasy-syaithaani wa auliyaa'ihi wa junuudihi wal'auna 'alaa haadzihin-nafsil-ammaarati bis-suu'i wal-isytighaala bimaa yuqarribuni
ilaika zulfa yaa dzal-jalaali wal-ikram yaa arhamar-raahimin, wa sallallaahu 'alaa sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa 'alaa 'aalihi wa shahbihii wa sallam
Artinya:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya.

Ya Allah Engkaulah Yang Abadi, Dahulu, lagi Awal. Dan hanya kepada anugerah-Mu yang Agung dan Kedermawanan-Mu tempat bergantung.

Dan ini tahun baru benar-benar telah datang. Kami memohon kepada-Mu
perlindungan dalam tahun ini dari (godaan) setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya. Dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan, agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, Nabi yang ummi dan ke atas para keluarga dan sahabatnya.