Social Icons

Pages

Wednesday, June 26, 2013

Amalan Sunnah Di Bulan Ramadhan



Bulan ramadhan merupakan bulan yang selalu dinantikan oleh orany yang beriman,diawanya penuh dengan rahmah ditengahnya limpahan maghfirah dan diakhirnya tertutup pintu neraka bagi insane beriman yang melakukan amalan ibadah dengan sebaik baik amalan di bulan ramadhan,seperti kita tahu tujuan puasa menjadikan kita menjadi manusia yang lebih bertakwa karena orang yang mempunya kedudukan mulia disisi Allah adalah orang yang bertakwa,karna kedudukan itu pulalah allah telah hendaknya kita bersegera untuk mendapatkan ampunan dari allah yang telah menyiapkan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disiapkan bagi hamba hambanya yang bertakwa.

Untuk itu marilah kita siapkan niat yang mantap untuk menjemput ramadhan dan mengisinya dengan memperbanyak amalan amalan yang disunnah kan untuk dikerjakan baik disiang ataupun malamnya ramadhan.Bulan ramadhan ini kita jadikan lahan untuk mendapatkan panen pahala dan kebaikan karena dibulan ini jika kita melakukan ibadah sunnah kita akan medapatkan pahala seperti kita melaksanakan amalan wajib,dan jika kita melakukan amalan yang wajib pahala kita akan dilipatgandakan 70 kali .betapa agungnya bulan ramadhan sungguh kita akan bahagia jika sepanjang tahun akan menjadi bulan ramadhan.

Banyak sekali bentuk ibadah sunnah yang di anjurkan untuk dilakukan di bulan ramadhan diantaranya sebagai berikut:

1.Sholat Tarwih

Sholat tarwih dilaksanakan ditiap malam bulan ramadhan setelah sholat ‘isya,dilakukan secara berjamaah .jika kita melaksanakannya maka kita akan mendapatkan keutamaan sebagaimana tersebut dalam hadist dibawah ini:

 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).
Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh Imam Nawawi (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6:39)

Selain itu, beliau beliau juga pernah mengumpulkan keluarga dan para shahabatnya. Lalu beliau bersabda,

مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh” (HR. An-Nasai dan selainnya, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Irwa’ no. 447)

2.Sahur

Puasa diawali dari terbit fajar sampai maghrib datang ,kita tidak boleh minum dan makan hal ini pasti akan mempengaruhi fisik kita.untuk itu sahur adalah merupakan bentuk kasih sayang Allah bagi kita untuk mempersiapkan fisik agar mampu menjalankan ibadah dengan baik.Sahur sangat dianjurkan walaupun hanya setegup air..sahur ini sering dianggap sepele dan sering ditinggalkan padahal ada keutamaan didalamnya

“Sahur adalah makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun hanya meneguk seteguk air, karena Allah dan para malaikat bershalawat atas orang-orang yang bersahur” (HR Ibnu Syaibah dan Ahmad).

Hadist berikutnya .
“Makan sahurlah kalian, karena pada makan sahur itu terdapat keberkahan.”
Demikian pula sebuah hadits dari Ahmad dan An Nasa’i

berikut.
“Sesungguhnya dia (makan sahur) adalah berkah yang diberikan Allah kepada kalian, jangan kalian meninggalkannya.”
Beliau pun menganjurkan kita untuk tidak meninggalkan makan sahur walau hanya seteguk air karena ada para malaikat yang mendoakan orang-orang yang sahur.

“Jangan kalian tinggalkan (sahur) walaupun salah seorang dari kalian hanya meneguk seteguk air, karena Allah dan para malaikat bersalawat atas orang-orang yang bersahur.”
 
Berkaitan dengan waktu, keberkahan sahur terjadi karena dilakukan pada sepertiga malam terakhir. Inilah waktu mustajabnya doa; saat Allah Swt. ”turun” ke bumi; dan saat orang-orang beriman biasa melakukan shalat malam (QS Al Isra’, 17: 79). Nah, apabila dua keberkahan (perbuatan dan waktu) menjadi satu, sangat rugi jika kita mengabaikannya hanya karena malas atau sekadar lupa.

Kemudian kita juga disunnahkan mengakhirkan sahur.
salah satu Hadist tersebut di antaranya riwayat yang dibawakan oleh Al-Imam Al-Bukhari dari shahabat Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anha berkata :

كُنْتُ أَتَسَحَّرُ فِي أَهْلِي ثُمَّ تَكُونَ سُرْعَتِي أنْ أدْرِكَ السُّجُودَ مَعَ رَسُولِ اللهِ

Artinya :
“Saya pernah makan sahur bersama keluarga saya, kemudian saya bersegera untuk mendapatkan sujud bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.”
Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anha berkata :

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِي r ثُمَّ قَامَ إلى الصَّلاةِ. قُلْتُ : كمْ كانَ بَيْنَ الأذانِ وَالسَّحُورِ قال قَدْرَ خَمْسِيْنَ آيَــة

“Kami makan sahur bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian beliau berdiri untuk shalat shubuh. Saya (Anas bin Malik) bertanya kepadanya : berapa jarak antara adzan dengan sahur ? Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anha menjawab : kurang lebih selama bacaan lima puluh ayat.”
Raihlah keberkahan sahur ini agar mendapat pahala sunnah yang akan menambah kebaikan kita dalam beragama .

3.sunah didalam berbuka puasa

Ada kegembiraan yang kita rasakan disaat beduk maghrib bertalu talu yang dilanjutkan panggilan adzan maghrib berkumandang,itulah saat yang ditunggu tunggu bagi seorang yang melaksanakan ibadah puasa,dan Allah menyukai hambanya yang mendahulukan berbuka sebagaimana sabda rosulullah Daripada Sahl bin Sa`ad bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Manusia sentiasa dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka puasa.”(Riwayat Bukhari dan Muslim).

Sebagai seorang muslim akan berusaha untuk meniru tingkah laku junjungan kita Nabi Muhammad saw,dalam masalah berbuka rosullullah memberi contoh makanan apa yang paling baik untuk mengawali buka sebagaimana sabda Beliau ,Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, (ia berkata):

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berbuka dengan beberapa kurma segar (ruthtab), jika tidak ada ruthtab maka beliau berbuka dengan beberapa kurma kering (tamar), jika tidak ada tamar maka beliau minum dengan meminum air.” (Hadis Riwayat Ahmad (3/163), Abu Dawud (2/306), Ibnu Khuzaimah (3/277, 278), at-Tirmidzi (3/70) melalui dua jalan dari Anas radhiyallahu ‘anhu. Sanad hadis ini sahih)

4.Memperbanyak bacaan Alquran disertai dengan mengkajinya.

Membaca ayat suci alquran merupakan ibadah yang sangat dianjurkan karena alquran itu sendiri merupakan petunjuk bagi orang yang beriman dalam mengarungi bahtera kehidupan menuju kebahagiaan dunia akhirat.disamping itu dengan membaca alquran alquran kita akan mendapatkan pahala yang luar bias apa lagi dibulan puasa yang mana pahalanya akan dilipat gandakan.

Dari Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu, katanya : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf. " (HR. At-Tirmidzi, katanya: hadits hasan shahih).

5.Melakukan I’tikah di 10 hari akhir bulan Ramadan

Masjid menjadi pusat ibadah umat nabi Muhammad ,didalamnya kita dianjurkan untuk memperbanyak melakukan ibadah misalnya sholat jamaah,belajar agama,menbaca alquran dan jenis ibadah lainnya.pada 10 hari terakhir ramadhan rosulullah menganjurkan kita melakukan i’tikah di masjid sebagaimana hadist dibawah ini mengatakan.

Daripada Aisyah RA : Sesungguhnya Nabi SAW melakukan I’tikaf sepuluh akhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian I’tikaf pula isteri-isteri baginda sesudahnya. (Muttafaq ‘Alaih)

6.Memberikan makan berbuka bagi orang yang berpuasa

Di dalam bulan ramadhan kita diajarkan untuk menjadi seorang muslim yang berjiwa social,dengan berbagi rejeki member makan kepada orang yang berpuasa hal ini mempunyai keutamaan yang besar dan juga pahala yang besar .

Dari Yazid bin Khalid Al Juhanniy ra. dari Nabi saw. Beliau bersabda : “Barangsiapa memberi buka (makan) orang yang berpuasa, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa itu.”(H.R Turmudzi)

 Dari Anas ra. bahwasanya Nabi saw. datang ke tempat Sa’ad bin Ubadah ra. kemudian ia menghidangkan roti dan mentega, maka beliau pun memakannya serta bersabda : “Telah berbuka di tempatmu orang-orang yang berpuasa, dan memakan makananmu orang-orang yang baik serta malaikat mendoakan kamu.”(H.R Abu Dawud)

7.Memperbanyak sodaqah

Dengan memperbanyak sadaqah harta kita tak akan berkurang tetapi allah akan mengganti dengan yang lebih banyak.sekaligus kita bisa lebih mempererat silaturahmi dengan sesama dan member kegembiraan bagi orang yang mendapat sedekah kita.sungguh indah ajaran islam ini.

Demikian beberapa sunnah yang selayaknya kita kerjakan di bulan yang mulia ini agar keutamaan bulan ramadhan dapat kita dapatkan.semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Wednesday, June 19, 2013

Rukun Puasa dan Hal Yang membatalkan Puasa



Pembaca yang dimulyakan Allah ,pada postingan kali ini kita akan melanjutkan tentang fikih puasa ,sebelumnya kita telah menyampaikan tentang syarat wajib puasa dan syarat syahnya puasa,dan pada kesempatan kali ini kita akan belajar bersama tentang masalah rukun puasa dan hal hal yang membatalkan puasa.

Puasa adalah bentuk ibadah dengan demikian pastilah ada rukun yang harus dikerjakan sebagaimana ibadah ibadah lainnya seperti sholat ,haji,dan lainnya.rukun puasa terdiri dari 2 hal yaitu:

1.Niat , Niat secara bahasa diartikan: maksud, bermaksud (al-qashd), sedangkan secara terminologi agama diartikan dengan: "Bermaksud mengerjakan sesuatu yang dibarengi pelaksanaannya. Apabila pelaksanaanya tertunda, tidak berbarengan dengan maksudnya, maka disebut 'azm, azam, keinginan.setiap amalan harus di awali dengan niat seperti juga puasa.dalam puasa ramadhan niat menjadi sempurna jika memenuhi tiga syarat dibawah ini.
 A.- At Tabyiit, yaitu berniat di malam hari sebelum Shubuh.
Jika niat puasa wajib baru dimulai setelah terbit fajar Shubuh, maka puasanya tidaklah sah. Dalilnya adalah hadits dari Hafshoh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

Siapa yang belum berniat di malam hari sebelum Shubuh, maka tidak ada puasa untuknya.” (HR. An Nasai no. 2333, Ibnu Majah no. 1700 dan Abu Daud no. 2454. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).
Sedangkan untuk puasa sunnah, boleh berniat di pagi hari asalkan sebelum waktu zawal (tergelincirnya matahari ke barat). Dalilnya sebagai berikut,

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا دَخَلَ عَلَىَّ قَالَ « هَلْ عِنْدَكُمْ طَعَامٌ ». فَإِذَا قُلْنَا لاَ قَالَ « إِنِّى صَائِمٌ »

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menemuiku lalu ia berkata, “Apakah kalian memiliki makanan?” Jika kami jawab tidak, maka beliau berkata, “Kalau begitu aku puasa.” (HR. Muslim no. 1154 dan Abu Daud no. 2455).
Penulis Kifayatul Akhyar berkata, “Wajib berniat di malam hari. Kalau sudah berniat di malam hari (sebelum Shubuh), masih diperbolehkan makan, tidur dan jima’ (hubungan intim). Jika seseorang berniat puasa Ramadhan sesudah terbit fajar Shubuh, maka tidaklah sah.” (Kifayatul Akhyar, hal. 248).

\B. At Ta’yiin, yaitu menegaskan niat.

Yang dimaksudkan di sini adalah niat puasa yang akan dilaksanakan harus ditegaskan apakah puasa wajib ataukah sunnah. Jika puasa Ramadhan yang diniatkan, maka niatannya tidak cukup dengan sekedar niatan puasa mutlak. Dalilnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى

Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)
Adapun puasa sunnah tidak disyaratkan ta’yin dan tabyit sebagaimana dijelaskan pada point 1 dan 2. Dalilnya adalah sebagaimana hadits ‘Aisyah yang tadi telah terlewat.

C. At Tikroor, yaitu niat harus berulang setiap malamnya

Niat mesti ada di setiap malamnya sebelum Shubuh untuk puasa hari berikutnya. Jadi tidak cukup satu niat untuk seluruh hari dalam satu bulan. Karena setiap hari dalam bulan Ramadhan adalah hari yang berdiri sendiri. Ibadah puasayang dilakukan adalah ibadah yang berulang. Sehingga perlu ada niat yang berbeda setiap harinya.

2.rukun puasa yang kedua adalah meninggalkan segala sesuatu yang membatalkan puasa disiang hari dari terbit fajar sampai tenggelam matahari pada bulan ramadhan.

Puasa  adalah menahan diri dari makanan, minuman, dan hubungan suami-isteri (setubuh, jimâ') sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Firman Allah: "Maka sekarang campurilah mereka (istri-istrimu) dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu, makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam" (QS. 2. al-Baqarah: 187)

Beberapa  hal yang membatalkan puasa

1.makan minum dengan sengaja pada siang hari dibulan ramadhan

"Dari Abu Hurairah ra.: bahwa sesungguhnya nabi saw. telah bersabda : Barangsiapa yang terlupa/tidak sengaja, sedang dia dalam keadaan puasa, kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya. Hal itu karena sesungguhnya Allah hendak memberinya karunia makan dan minum " (Hadits Shahih, riwayat Al-Jama'ah kecuali An-Nasai).

2.Muntah yang di sengaja

 Dari Abu Hurairah ra. bahwa sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Barang siapa yang muntah dengan tidak sengaja, padahal ia sedang puasa - maka tidak wajib qadha ( puasanya tetap sah ), sedang barang siapa yang berusaha sehinggga muntah dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqadha ( puasanya batal ). ( H.R : Abu Daud dan At-Tirmidziy )

3.Datang haidh

 Diriwayatkan dari Aisyah ra ia berkata : Disaat kami berhaidh ( datang bulan ) dimasa Rasulullah saw. kami dilarang puasa dan diperintah untuk mengqadhanya dan kami tidak diperintah untuk mengqadha shalat. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

4.Tidak berniat berpuasa

Mungkin ada diantara kita yang pada malam hari dia berniat berpuasa tapi tengah jalan terbesit dalam hatinya untuk tidak berpuasa maka niat puasanya menjadi batal.

Diriwayatkan dari Hafshah, ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. Barang siapa yang tidak berniat untuk puasa ( Ramadhan ) sejak malam, maka tidak ada puasa baginya. ( H.R : Abu Daud ) hadits shahih.
Dalil kedua,telah bersabda Rasulullah saw: Bahwa sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat  ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

5.Bersetubuh pada siang hari di bulan ramadhan

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Sesungguhnya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah saya terlanjur menyetubuhi istri saya (di siang hari) padahal saya dalam keadaan puasa ( Ramadhan ), maka Rasulullah saw bersabda : Punyakah kamu seorang budak untuk dimerdekakan ? Ia menjawab : Tidak. Rasulullah saw bersabda : Mampukah kamu puasa dua bulan berturut-turut ? Lelaki itu menjawab : Tidak. Beliau bersabda lagi : Punyakah kamu persediaan makanan untuk memberi makan enam puluh orang miskin ? Lelaki itu menjawab : Tidak. Lalu beliau diam, maka ketika kami dalam keadaan semacam itu, Rasulullah  datang dengan membawa satu keranjang kurma, lalu bertanya : dimana orang yang bertanya tadi ? ambilah kurma ini dan shadaqahkan dia. Maka orang tersebut bertanya : Apakah kepada orang yang lebih miskin dari padaku ya Rasulullah ? Demi Allah tidak ada diantara sudut-sudutnya ( Madinah ) keluarga yang lebih miskin daripada keluargaku. Maka Nabi saw. lalu tertawa sampai terlihat gigi serinya kemudian bersabda :Ambillah untuk memberi makan keluargamu. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

Semakin bertambah pengetahuan kita tentang syariat agama ini hendaknya menjadi motivator kita untuk mencapai derajat ketakwaan yang sempurna,kepada semua pembaca semoga kita semua dijadikan golongan orang yang mutakin/bertakwa amin.

Monday, June 17, 2013

Fikih Puasa untuk bekal puasa ramadhan



Lampu dunia berkilau kuning keemasan menyinari jagad raya dikala malam gelap gulita.sang bulan tampak berseri menyambut malam pertenganhan bulan syaban,menjadi bidadari diantara kerlipan bintang gemintang mengapung diatas awan sebagai tanda kebesaran sang penguasa alam.tapi yang jadi pelajaran bagi kita adalah ramadhan yang akan segera datang,yang perlu kita sambut dengan bekal iman dan ketakwaan ,demi mencapai tujuan yang kita cita citakan,menjadi hamba yang di liputi dengan ketakwaan.kita siapkan ilmu tentang ibadah wajib dan sunah yang akan kita amalkan dibulan ramadhan ,agar ibadah kita menjadi sebaik baik amalan yang akan mendapatkan imbalan kemuliaan disisi Allah sang pemelihara alam.

Puasa ramadhan  menjadi amalan wajib bagi orang yang beriman dan ini adalah merupakan rukun islam yang ke empat  ,hal ini menjadi wajib bagi kita untuk mempelajari tentang ilmu puasa,pada kesempatan postingan kali ini akan sedikit kita bahas tentang dalil tentang puasa,syarat wajib puasa syarat ,syarat syahnya puasa dan lainya yang berkaitan dengan puasa.

1.Dalil tentang Puasa Ramadhan
Perkara ibadah hokum dasarnya adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkannya,dibawah ini tertera tentang dalil puasa ramadhan baik dari alquran ataupun hadist,dengan mengetahui dalil ini diharapkan kita semakin mantap dalam menjalankan puasa kita.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ.
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka, barang siapa di antara kalian sakit atau berada dalam perjalanan (lalu berbuka), (dia wajib berpuasa) sebanyak hari yang ia tinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Wajib bagi orang-­orang yang berat menjalankannya, (jika mereka tidak berpuasa), membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan dengan kerelaan hati, itulah yang lebih baik baginya. Berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-­penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Oleh karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia ber­puasa pada bulan itu, dan barangsiapa yang sakit atau berada dalam perjalanan (lalu berbuka), (dia wajib berpuasa) sebanyak hari yang ia tinggal­kan itu pada hari-hari yang lain. Allah meng­hendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak meng­hendaki kesukaran bagi kalian. Hendaklah kalian mencukupkan bilangan (bulan) itu dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberi­kan kepada kalian supaya kalian bersyukur.” [Al-Baqarah: 183-185]

Dalam hadits Abdullah bin Umar riwayat Al-Bukhâry dan Muslim, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa puasa adalah salah satu rukun Islam yang agung dan mulia,
بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun di atas lima (perkara, pondasi): Syahadat Lâ Ilâha Illallâh wa Anna Muhammadan ‘Abduhu wa Rasûluhu, mendirikan shalat, me­ngeluarkan zakat, berhaji ke Rumah Allah, dan berpuasa Ramadhan.” 

2.syarat wajib puasa

1.Islam
Apa bila kita Bergama islam maka kita wajib mengikuti syariat islam dan puasa ini termasuk menjadi syariat yang diwajibkan ketika menjadi seorang muslim.bagi mereka yang kafir tidak mendapat beban syariat ini akan tetapi mereka akan mendapatkan hukuman di akhirat nanti kana dak mau beriman dan menjadi muslim.

2.Taklif
Taklif ini mempunyai pengertian orang islam yang berakal dan Baligh,apa bila tidak terpenuhi salah satu diantara sifat taklif ini maka tidak ada kewajiban melaksanakan puasa,maksudnya jika orang itu baligh tapi tidak berakal(gila,pinsan,ayan,mabok) maka tidak wajib puasa dan sebaliknya walaupun berakal tapi belum baligh maka tidak wajib puasa.

Dalilnya ialah hadis Ali r.a. bahawa Nabi SAW bersabda :
Diangkat qalam (tulisan amalan) daripada tiga jenis manusia : daripada orang tidur sehingga dia bangun, daripada kanak-kanak sehingga dia bermimpi (baligh) dan daripada orang gila sehinggalah dia berakal“. (Abu Daud (4403) dan selainnya).


3.Tidak ada udzur yang menghalangi puasa atau sesuatu yang mengharuskannya berbuka.
Udzur  yang menghalangi puasa  berupa haid dan nifas pada siang hari dan juga mengalami pinsan atau gila pada siang hari maka tidak wajib puasa.

Keuzuran yang mengharuskan berbuka ialah :

1. Sakit yang mendatangkan mudharat yang besar ataupun sakit dan kebimbangan yang amat dahsyat kepada orang yang berpuasa. Jika penyakitnya itu menjadi semakin teruk ataupun kesakitan itu semakin dahsyat (jika dia berpuasa), dan dia bimbang dia akan mati (sekiranya dia meneruskan puasanya), maja pada waktu itu dia wajib berbuka.

2. Musafir yang jauh tidak kurang daripada 83 km dengan syarat ia adalah pemusafiran yang dibenarkan dan mencakupi seluruh hari.

Mengenai seorang yang berpuasa, pada waktu paginya dia bermukim, kemudian dia bermusafir pada waktu siang, maka dia tidak dibenarkan berbuka.

Dalil kedua-dua penguzuran ini ialah firman Allah ;
 dan sesiapa yang sakit atau dalam musafir maka (bolehlah ia berbuka, Kemudian wajiblah ia berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain“. (Al-Baqarah : 185)

3. Tidak mampu berpuasa. Oleh itu tidak wajib berpuasa disebabkan terlalu tua atau sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh karena puasa hanya wajib terhadap orang yang mampu melakukannya.
Dalilnya adalah firman Allah ;

dan wajib atas orang-orang yang tidak berdaya berpuasa (kerana tua dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin.” (Al-Baqarah : 184)

Dibacakan juga ‘Yutawwaqunahu’ yang bermaksud jika mereka tetap diwajibkan melakukannya (puasa), nescaya mereka tidak mampu melakukannya.

Ibnu Abbad r.a. berkata : Yang dimaksudkan ialah orang lelaki dan perempuan yang terlalu tua, keduanya tidak mampu untuk berpuasa, kedua-duanya hendaklah menggantikan setiap hari puasa dengan memberi makan seorang fakir miskin. Riwayat Bukhari (4235).
Syarat-syarat sah yang dikerjakan oleh orang yang berpuasa ramadhan ada empat (4) perkara :

1. Orang Islam. tidak sah puasanya orang kafir.
2. Orang yang berakal sehat. tidak sah puasanya orang yang hilang akalnya, karena gila, ayan atau mabuk.
3. Orang yang telah putus dari darah haidh, nifas, dan wiladah. sekalipun  belum mandi wajib untuk mensucikan diri dari haidh,nifas, wiladahnya. tidak sah puasanya orang yang sedang haidh,nifas,wiladah. Tetapi wajib mengkodho puasa yang ditinggalkan.tidak wajib mengkodho shalat fardhu yang ditinggalkan.
4. Waktu yang diterima untuk mengerjakan puasa. tidak sah puasa pada hari raya fitrah,hari raya adha, dan 3 hari sesudah adha yang disebut hari tasyriq. Itulah hari-hari yang haram berpuasa, meskipun puasa wajib, karena nadzar, qodho wajib mudhayyaq dll.

Demikian postingan tentang syarat wajib dan syahnya puasa insyaallah akan berlanjut ke masalah lainnya yang berkaitan dengan puasa,semoga bermanfaat amin.